SDN Sukorejo 01 Gondanglegi, bertekad ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tujuan negara Indonesia!

Senin, 24 Desember 2012

Tamu Allah


 Jamaah haji dinamai tamu-tamu Allah. Ini dikarenakan mereka datang ke Ka’bah, rumah-Nya guna memenuhi panggilan-Nya.
Menarik untuk dicermati  undangan tamu Allah itu sambil membandingkan dengan perintah-Nya yang lain.Kewajiban shalat diungkapkan dengan Aqiimu as-shalat! (Laksanakan shalat), zakat dengan Aatu az-zakaat! (Tunaikan zakat), puasa dengan Kutiba ‘alaikum as-shiyaam (Diwajibkan atas kamu puasa).
Tetapi, haji dimulai dengan Walillahi ‘alannas hijjul bait (Karena Allah diwajibkan atas manusia menuju Rumah Allah (QS Ali Imran: 97), Atimmu al-hajja wal ‘umrata lillah! (Sempurnakanlah haji dan umrah karena Allah) (QS. Al-Baqarah: 196).
Benar bahwa sahnya semua ibadah, adalah Lillah, karena Allah. Namun, mengapa yang digaris­bawahi hanya ibadah haji dan umrah? Boleh jadi karena haji adalah ibadah harta dan fisik, masa pelaksanaannya memakan waktu beberapa hari, sehingga godaan bisa silih berganti dan beragam.
Ini pula sebabnya sehingga waktu persiapannya disediakan berbulan-bulan. “Alhajju asyhurum ma’lumat.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Pengundang Agung itu berpesan, “Bagi mereka yang telah memantapkan niat untuk melaksanakan haji, maka sekali-kali jangan ia berucap cabul, melakukan kefasikan, dan berbantah-bantahan pada saat haji. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197).
Takwa bersemai di dalam hati. Benih pertamanya adalah ketulusan, dan itulah makna kata Lillah di atas.
Seharusnya, Allah menyertai tamu-Nya sejak terbetik keinginannya untuk berhaji. Namun, kalau belum mantap, semoga ketika ia melangkahkan kaki ke luar rumah. Dan kalau itu pun belum, maka sekali-kali jangan tidak ketika mengenakan pakaian ihram, sambil berucap, “Labbaika Allhumma Labbaik (Kuperkenankan panggilan-Mu, ya Allah).”
Jika tidak, jangan menyesal bila sambutan-Nya dingin atau pintu rumah-Nya tertutup sambil menuding sang tamu sebagai pembohong.
Bekal takwa dibutuhkan karena perjalanan sulit, gangguan tak sedikit, dan kepentingan saling berhimpit. Kalau bekal kurang, boleh jadi sang musafir kehabisan cairan dan ketika itu penyesalan tidak berguna.
Namun jika niat tulus menyertainya, maka seperti ungkapan Abu Yazid Al-Busthamidi, “Tengah perjalanan ia akan melihat rambu-rambu di mana terdapat marabahaya, ia menemukan telaga-telaga air yang jernih, serta tempat-tempat peristirahatan yang teduh. Bahkan, tersedia pula kendaraan Ar-Rahman, yang mengantarnya dengan damai menemui Allah SWT.”

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tari Merak dlm acara perpisahan klas 6 th 2009/2010

Tari Merak dlm acara perpisahan klas 6 th 2009/2010

Followers

Site Info

Jln Pahlawan No 2 Sukorejo Gondanglegi Malang Jatim
Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template Vector by DaPino