SDN Sukorejo 01 Gondanglegi, bertekad ikut mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tujuan negara Indonesia!

Senin, 23 Januari 2012

Kecelakaan Maut di Tugu Tani

Sungguh terkejut mendengar kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kawasan Tugu Tani hari Minggu lalu. Lima anak-anak yang baru selesai berolahraga di Lapangan Monas dan empat anggota keluarga asal Jepara yang sedang berlibur di Jakarta tewas tertabrak mobil yang lepas kendali dan naik ke atas trotoar pejalan kaki.

Sang pengemudi diketahui kemudian mengendarai mobil dalam kondisi dipengaruhi obat terlarang. Bersama ketiga rekannya, ia diketahui baru mengikuti pesta sabu yang dijalani sejak hari Sabtu malam.

Peristiwa mengenaskan itu menyadarkan kita betapa jalan raya telah menjadi ladang pembunuhan yang menakutkan. Tewasnya sembilan pejalan kaki di Tugu Tani hanya merupakan potret kecil dari banyaknya nyawa yang harus melayang di jalan raya.

Terutama para pejalan kaki dan juga penumpang kendaraan umum menjadi pihak yang paling banyak menjadi korban. Cara berkendara yang tidak mengindahkan aturan membuat jalan raya menjadi tempat yang berbahaya dan menakutkan.

Padahal jalan raya merupakan bagian integral yang tidak bisa terpisahkan dari kota. Aktivitas masyarakat kota juga tidak mungkin menghindar dari jalan raya. Begitu kita keluar dari rumah, maka otomatis kita bersinggungan dengan jalan raya.

Di banyak negara, pejalan kaki merupakan pihak yang paling mendapat perhatian dan perlindungan. Semua aturan lalu lintas menempatkan pejalan kaki sebagai pihak yang paling tinggi posisinya. Sebagai pihak yang paling lemah, pejalan kaki haruslah menjadi pihak yang paling dilindungi.

Kita bisa lihat bagaimana kuatnya posisi pejalan kaki ketika ia berada di atas zebra cross. Semua kendaraan pasti menghentikan lajunya ketika melihat ada orang sedang menyeberangi jalan. Para pengemudi tahu betul bahwa pejalan kaki dilindungi oleh undang-undang dan siapa pun yang mencelakakan pejalan kaki akan menghadapi hukuman yang berat.

Inilah yang tidak kita kenal dalam tata krama berlalu lintas di Indonesia. Seperti gambaran umum kehidupan yang berlaku di Indonesia, dalam berlalu lintas pun berlaku paham siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Tidak usah heran apabila pengemudi bus atau truk merasa dirinya yang paling kuat dan harus ditakuti di jalan raya.

Perilaku ugal-ugalan dari pengemudi bus umum merupakan penyebab kecelakaan yang paling banyak. Beberapa kali bahkan sampai terjadi bus yang jatuh dari jalan layang di Jakarta. Para pengemudi kendaraan umum itu tidak pernah mau menyadari bahwa ia sedang mempertaruhkan nyawa begitu banyak penumpangnya.

Sekarang ini ancaman yang tidak kalah menakutkannya bagi pejalan kaki adalah pengendara motor. Hanya demi bisa lebih cepat ke tempat tujuan, para pengendara motor seringkali naik ke atas trotoar dan melaju kencang di jalur para pejalan kaki.

Penataan kembali aturan berlalu lintas merupakan hal yang penting dilakukan apabila kita tidak menginginkan jalan raya menjadi ladang pembunuhan. Kita harus menegakkan kembali aturan untuk menghindarkan pemahaman bagi yang paling kuat yang paling berkuasa di jalanan.

Penegakan kembali aturan penting untuk mengajak semua orang bertanggung jawab ketika sedang berada di jalan raya. Oleh karena ancaman bahayanya yang sangat tinggi, semua orang harus sadar bahwa kelengahannya di jalan raya akan bisa berbahaya bagi orang lain.

Seorang yang sedang dalam keadaan mabuk misalnya, dilarang untuk mengendarai kendaraan karena bisa membahayakan orang lain. Pada praktik di negara-negara lain, teman dari orang yang sedang dalam keadaan mabuk, ikut melindungi keselamatannya dengan melarang orang yang mabuk itu untuk mengendarai kendaraan.

Dalam kasus kecelakaan di Tugu Tani, pengemudi mengendarai kendaraan dalam kondisi mabuk. Dengan memakai sabu, ia tidak sadar akan apa yang dikerjakannya, sehingga ia tidak tahu bahwa kendaraannya melaju di atas kecepatan yang diperbolehkan. Ia juga tidak bisa mengontrol kendaraan ketika kemudian keluar dari lintasan sehingga menyebabkan sembilan orang meninggal.

Peristiwa mengenaskan di hari Minggu itu seharusnya menyadarkan kita untuk membenahi aturan berlalu lintas di jalan raya. Tidak bisa hanya sekadar dianggap sebagai musibah dan merupakan sesuatu yang biasa saja. Sesudah itu kita tetap berlaku seperti biasanya sekarang ini.

Terlalu banyak nyawa yang terbuang percuma di jalan raya. Kita harus mengambil tindakan yang drastis, kecuali kita mau menganggap hilangnya nyawa di jalan merupakan sesuatu yang biasa-biasa saja.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Tari Merak dlm acara perpisahan klas 6 th 2009/2010

Tari Merak dlm acara perpisahan klas 6 th 2009/2010

Followers

Site Info

Jln Pahlawan No 2 Sukorejo Gondanglegi Malang Jatim
Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template Vector by DaPino